Minggu, Februari 5

Mahasiswa ITB Jurusan S2 Diduga Terpapar NII

Pinterest LinkedIn Tumblr +
Ken Setiawan, Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center, mengungkapkan bahwa akhir akhir ini banyak mendapat laporan mahasiswa ITB jurusan S2 t(4/1/2022).

Beragam segmentasi laporan yang masuk ke NII Crisis Center, mulai kalangan pelajar, mahasiswa, wakil rektor, dosen, kalangan buruh, tidak sedikit juga laporan dari oknum ASN dan aparatur negara yg terindikasi terpapar.

Menurut Ken, perekrutan radikalisme bisa menimpa siapa saja, tak peduli usia dan latar belakang sosial, karena biasanya mereka menggunakan sugesti agama dan ayat ayat kitab suci.

Sebenarnya banyak yang sudah bergabung lalu melihat ada yang salah lalu keluar, namun banyak juga yang terpaksa terus mengikuti karena takut ancaman, sebab yang keluar dari jaringan itu diancam halal darahnya dan akan dibunuh.

Salah satu korban yang mencoba keluar adalah Bunga (nama samaran) yang merupakan mahasiswi S2 tehnik lingkungan di Institut Teknologi Bandung (ITB)

Awal keterlibatan Bunga adalah ketika berdiskusi dengan senior di program studi, mulanya hal hal bagus tidak ada yang aneh, diskusi tentang manusia yang fitrah tugasnya adalah menjalankan perintah dan meninggalkan larangan tuhan.

Diskusi yang awalnya dikampus lalu lama kelamaan pindah diajak ke kost dan bertemu dengan orang berbeda tapi masih satu kampus di ITB.

Semakin lama diskusi menjadi semakin aneh, karena mereka mengajak untuk bershahadat kembali karena shahadat Bunga dianggap belum sah, Islamnya juga dianggap masih keturunan, makanya harus bershahadat ulang.

Tapi karena semua hal dalam diskusi selalu di landasi ayat ayat alquran, maka Bunga pun berprasangka baik saja dan mengikutinya, Bunga juga di doktrin bahwa perintah pimpinan kelompok mereka harus di taati, dalilnya sami’na waato’na, mendegar dan taat.

Bahkan sampai dalam hal untuk pernikahan pun, seorang jamaah perempuan tidak boleh menentukan sendiri, tapi di pilihkan oleh pimpinan kelompok, jamaah hanya diminta kirim cv dan biodata lengkap, lalu dipertemukan dengan calon dalam forum taaruf.

Pernikahan dianggap sebuah ikatan kuat dalam kelompok, sebab ketika seorang perempuan sudah menikah maka akan terikat dua tanggung jawab kepada negara dan suami.

Saat dalam kondisi bimbang, Bunga serching di internet menemukan nomer hotline dan berkomunikasi dengan NII Crisis Center. Akhirnya setelah konsultasi panjang, sepakat untuk berhenti dari kelompok tersebut walaupun terus dihubungi oleh teman temen dikelompok yang masih satu kampus.

Menurut Bunga, di Bandung, khususnya di kalangan kampus sudah banyak mahasiswa yang menjadi korban gerakan sesat negara Islam Indonesia, termasuk di ITB sudah banyak oknum yang terpapar dan mengadakan perekrutan di kampus.

Mereka yang radikal menjadi besar karena minimnya sosialisasi bahaya radikalisme, sekalipun adapun jika ada sosialisasi sifatnya hanya seremonial di awal penerimaan mahasiswa baru, setelah itu tidak ada tindak lanjutnya, sementara kelompok radikal NII itu 24 jam bergerak merekrut anggota baru, jadi tidak seimbang, Ujar Bunga.

Menurut Ken, dirinya tidak menyalahkan siapa siapa, termasuk pihak kampus, jangankan aparat dan pemerintah, pihak yang paling dekat yaitu keluarga saja banyak yang tidak tahu jika salah satu kerabatnya terpapar NII, mereka pintar menyembunyikan jati diri dan membaur dengan masyarakat sehingga susah di indetifikasi.

NII Crisis Center menerima laporan pengaduan dan pendampingan kepada masyarakat terkait NII di whatsapp 0898-5151-228 Tutup Ken.

 

Share.

About Author

Leave A Reply

id_IDIndonesian